Saturday, September 27, 2008

0

Waluyo, "Membumikan" Agama

Kompas, Sabtu, 27 September 2008 | 03:00 WIB

Ahmad Arif dan M Ardus Sawega

Emperan sebuah rumah di tepian Bengawan Solo, Minggu, 14 September 2008. Terik matahari siang itu terhalang dedaunan pohon mangga. Angin semilir terasa menyejukkan. Bunyi kemanak dan gender diiringi gending Jawa lembut mengalun, berpadu dengan suara rebana dan beduk yang mengentak, membuat tidak ingin beranjak.

Waluyo Sastro Sukarno, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, ikut memainkan musik. Dia kebagian memukul kendang, sedangkan istrinya, Heni (41), dan empat perempuan lain melantunkan tembang-tembang Jawa berseling dengan selawatan, puji-pujian kepada Nabi Muhammad.

Musik itu, yang disebut Santi Suara Laras Madya, menautkan antara budaya Jawa dan Islam. ”Pertautan itu terlihat dari alat musik dan tembangnya,” ujar Waluyo.

Alat musik dari Jawa diwakili kemanak, kendang, dan gender, sedangkan representasi dari budaya Islam adalah rebana dan beduk. ”Tembang dalam Santi Suara Laras Madya biasa menggabungkan tembang-tembang mocopat seperti gambuh, dengan solawatan dan doa-doa dalam Islam,” kata Waluyo menambahkan.

Musik itu pula yang menyatukan dosen, guru, tukang batu, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga di Dusun Kaplingan, Kelurahan Jebres, Kecamatan Jebres, Surakarta, Jawa Tengah, untuk menembangkan irama yang sama.

Perasaan pun seperti disedot ke masa lampau. Konon, menurut Waluyo, Santi Suara Laras Madya digagas oleh Pakubuwono V (PB V). ”PB V terinspirasi dengan para penyebar awal di tanah Jawa yang mengenalkan agama baru ini melalui budaya dan kesenian,” kata Waluyo.

Pada awal masuknya Islam ke tanah Jawa, para sunan menggunakan musik, lagu, hingga seni pertunjukan wayang untuk menambat hati orang Jawa. Dengan cepat agama baru ini pun menyebar di Jawa. Antropolog dari Amerika Serikat yang banyak meneliti tentang Indonesia, Clifford Gertz, menyebut hal ini dengan Islam yang di-Jawa-kan, daripada Jawa yang di-Islam-kan.

Meski analisa Gertz yang mengotak-ngotakkan tiga kategori Muslim di Jawa sebagai santri, abangan, dan priayi tak sepenuhnya sahih, dia sesungguhnya telah melihat adanya akulturasi praktik-praktik Islam dengan budaya Jawa.

Akulturasi dan asimilasi budaya itu telah membentuk identitas Islam di Jawa yang unik. Identitas yang banyak disemangati oleh nilai toleransi itu telah membuat konfigurasi ”anyar” antara agama yang datang dari Timur Tengah dan agama yang tunduk pada budaya awal di Jawa, tanpa menafikan substansi pesan ”langit” agama itu.

Menyatukan

Dengan semangat toleransi itu pula, Waluyo memunculkan kembali Santi Suara Laras Madya pada tahun 1996 di Dusun Kaplingan.

Sebelum itu, warga jemaah empat masjid di desa itu terkotak-kotak. Mereka fanatik dengan imam masjid masing-masing. Di luar masjid, warga desa di pinggiran Sungai Bengawan Solo itu, anak-anak muda yang berjarak dari masjid, mabuk-mabukan. Tepian Bengawan Solo ini dulunya dikenal sebagai kawasan hitam, tempat mabuk- mabukan dan perjudian.

Waluyo datang ke empat masjid itu. Jemaah dari masjid satu dibawa ke masjid lainnya. Para muda yang sebelumnya berjarak dari jemaah masjid juga diajak bergabung. Mereka membentuk kelompok musik Santi Suara Laras Madya di Kaplingan.

”Saya memulai dengan membentuk kelompok musik anak- anak. Mereka lebih gampang diajari dan mudah guyub (rukun). Kemudian para pemuda, dan baru orang tua,” cerita Waluyo.

Untuk menjembatani komunikasi antar-generasi, Waluyo pun menggubah tembang berjudul Guyub. Tembang yang mengingatkan pentingnya kebersamaan ini dinyanyikan bersahut-sahutan antara anak-anak, pemuda, hingga orang tua, lelaki maupun perempuan. Tembang-tembang Santi Suara Laras Madya lain yang digubah Waluyo juga berisi tentang ajakan untuk senantiasa berbuat kebajikan terhadap sesama.

Santi Suara, yang artinya doa yang baik, pernah sangat populer di Surakarta hingga era tahun 1960-an. Pada waktu itu, radio-radio di kota ini banyak yang mengalunkan musik yang memadukan unsur Islam dan Jawa. Namun, musik ini mulai punah. Kelompok musik Santi Suara Laras Madya yang dibentuk Waluyo menjadi rintisan baru.

Bagi Waluyo, mengembangkan kembali Santi Suara Laras Madya tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menjadi media efektif untuk menyebarkan kebajikan.

”Menyampaikan kebaikan bisa dengan musik dan lagu. Pendekatan budaya ini telah dilakukan sejak lama, dan lebih mengena,” ujarnya. Musik ini juga menjadi medium bagi Waluyo untuk memperpendek jarak antara dunia kampus dan masyarakat sekitar.

”Sebelumnya saya merasa berjarak. Tetapi, dengan membuat kelompok musik bersama masyarakat, saya bisa membaur dengan mudah,” kata Waluyo yang berasal dari Blora ini.

Di mata Waluyo, seni tak hanya berfungsi secara estetis dan wadah mengekspresikan diri, tetapi juga menjadi media komunikasi dengan realitas keseharian dan alat untuk mengajak kepada kebaikan.

Monday, September 22, 2008

0

Nasionalisme di Zaman Konsumsi

Kompas, Senin, 22 September 2008 | 00:11 WIB
Bre Redana

Inilah lapisan-lapisan tontonan dan simulakrum, bagian depan panggung, front. Para tokoh tampil di televisi, di halaman-halaman koran, di baliho-baliho. Jelas ini bukan zaman Tan Malaka yang ditulis oleh majalah Tempo dengan sangat komprehensif dalam laporan khususnya. Kalau tokoh itu bergerak di belakang layar dengan sejumlah nama samaran dan hidup dalam persembunyian-persembunyian—di situ ia malah melahirkan magnum opus Madilog—maka tokoh-tokoh politik masa kini berlomba-lomba naik panggung, berada di depan layar, mencoba meraih hati publik dalam strategi pencitraan dengan tag line ”win the heart”. Mereka mengedepankan diri dengan senyumnya, dengan jasnya, sampai dengan nomor mobilnya.

Kalau dulu pada bagian back atau ”belakang layar panggung” adalah dapur tempat pengolahan gagasan-gagasan kebangsaan, sekarang di bagian itu adalah wilayah agensi, biro iklan, pokoknya bagian bisnis. Mereka mengolah angka, memanipulasi realitas, mematok target. Bisnis telah menjadi panglima, dan nasionalisme—seperti halnya momen-momen lain seperti hari besar keagamaan—menjadi dagangan tahunan.

Selamat mengonsumsi nasionalisme.

Thursday, September 18, 2008

0

Google Chrome

Kompas, Kamis, 18 September 2008 | 03:00 WIB

Oleh Amir Sodikin

Manuver Google dan banyak perusahaan lainnya untuk mendukung dunia open source menandakan kemenangan baru bagi dunia perangkat lunak yang mengandalkan sumber terbuka dan gratis ini. Semangat berbagi telah diagungkan di atas semangat cari keuntungan. Gerakan ini juga memicu kesadaran humanis para pembuat peranti lunak. Kaum pinggiran itu lambat laun bergerak masif dan berada pada arus utama.

Tak puas merajai bisnis mesin pencari, Google akhirnya ikut ”berperang” di kancah penjelajah web atau browser. Pada 2 September 2008 lalu Google meluncurkan browser bernama Chrome (www.google.com/chrome). Peluncuran ini memberi dampak besar bagi keyakinan dunia open source untuk melawan dominasi software tertutup yang berbayar.

Kalau kita berselancar di internet, pilihan penjelajah yang mendominasi adalah Internet Explorer, Mozilla Firefox, Opera, Safari pada Apple, dan masih ada beberapa lagi. Nah, Google tiba-tiba ikut nimbrung berebut ”kue” ini.

Open source boleh bangga karena terus mendapat dukungan dari industri besar, termasuk dukungan penuh Google. Tujuan Google kali ini tampaknya bukan soal uang, melainkan sikap politis untuk mengimbangi dominasi Internet Explorer dari Windows.

Bukankah langkah ini akan menggerogoti browser open source Mozilla Firefox (pesaing dekat Internet Explorer)? Padahal, Mozilla sudah lama bergandengan dengan Google dan orang-orang Google juga sudah jatuh cinta dengan Firefox.

Tujuan Google memang masih ”remang-remang”. Di bidang ini, sudah lama berperang antara Internet Explorer dan Netscape Navigator. Tahun 1999, Netscape Corporation diakuisisi America Online (AOL) dan proyek Gecko dari Netscape pun dibuat terbuka kode sumbernya (open source).

Netscape pun mendirikan proyek Mozilla.org yang melahirkan Mozilla Firefox. Browser ini unik, selain dicintai pengguna dengan alasan fungsional juga dikenal banyak kalangan sebagai browser antidominasi Internet Explorer.

Firefox mampu merebut sekitar 20 persen dari pasar (data majalah Wired, September 2008). Di saat gairah Firefox meningkat, Chrome malah muncul.

Chrome disediakan gratis dan dibangun secara open source. Hingga saat ini, Chrome hanya dirilis versi Windows. Ke depannya, Chrome juga tersedia untuk Linux dan Mac.

”Kami menyadari web telah bergerak dari halaman sederhana ke halaman yang kaya aplikasi yang interaktif, kita harus berpikir ulang soal browser yang ada. Yang kita butuhkan tidak sekadar browser, melainkan platform untuk web dan aplikasinya,” kata Wakil Presiden Manajemen Produk Google Sundar Pichai dan Direktur Teknik Google Linus Upson pada blog peluncuran Chrome.

Sistem operasi internet

Pada browser modern, untuk membuka beberapa web tak perlu membuka beberapa kali browser. Cukup membuka sekali browser, kemudian buka tab pada satu browser itu untuk mengakses web lain. Cara ini disebut kemampuan tabbing.

Revolusi pada Chrome adalah proses tiap tab ternyata terpisah dan tak saling terkait. Keuntungannya, jika salah satu web macet, tab lain tetap berfungsi. Ini berbeda dengan cara kerja browser lain.

Istilah pada sistem operasi adalah, Chrome memiliki fungsi multitasking dan juga punya semacam Task Manager (seperti di Windows) yang bisa melihat halaman, aplikasi, dan situs mana yang sedang menggunakan memori komputer. Dengan multitasking ini, maka Chrome lebih mirip sebagai sistem operasi internet daripada sebuah browser.

Internet Explorer versi 8 yang saat ini masih beta juga sedang mengembangkan fitur tab yang terisolasi, mirip dengan Chrome. Dengan demikian, persaingan ini benar-benar membuat industri makin kreatif.

Google mengklaim, di dalam penjelajah ini sudah ditanamkan mesin JavaScript V8 yang membuat halaman lebih cepat diakses. Fasilitas lain, semua web yang pernah dikunjungi dengan mudah bisa diakses kembali tanpa mengetikkan ulang.

Meski demikian, untuk menjaga privasi pengguna, Chrome juga menawarkan mode penyamaran. Dengan mode ini, seseorang bisa mengakses web tanpa meninggalkan jejak.

Mengagungkan ”open source”

Bisa dibilang, browser open source ini merupakan perkawinan antara browser Safari yang digunakan Apple dengan browser Mozilla Firefox. Google yakin Chrome akan menjadi ”pembunuh” Internet Explorer.

Walaupun menggunakan WebKit, sama dengan browser Safari pada Apple, Chrome kelihatan berbeda dibanding Safari ataupun dibandingkan dengan browser lainnya.

”Kami percaya open source bekerja tak hanya karena membolehkan banyak orang untuk bergabung dan mengembangkan produk, tetapi yang terpenting adalah proyek lain bisa memanfaatkan dan mengembangkan sumber kode yang kami buat. Ketika kami membangun teknologi inovasi baru, kami berharap proyek lain bisa menggunakannya lebih baik, seperti kami telah mengadopsinya dari proyek open source lainnya untuk membuat produk kami lebih baik,” kata Ben Goodger, ahli software Google.

Langkah selanjutnya, dan ini yang paling ditunggu banyak pihak, adalah menunggu Google mengaplikasikan Chrome pada sistem operasi bergerak atau sebut saja pada telepon seluler. Pelan tetapi pasti, elemen-elemen Chrome akan diadopsi oleh proyek open source Google lainnya, yaitu sistem operasi untuk media bergerak, Android.

Jika Chrome yang mendukung penuh JavaScript ini dicangkokkan pada Android, inilah browser masa depan yang akan membuat perangkat bergerak seperti telepon seluler dengan mudah bisa menggantikan fungsi komputer. Dampaknya akan sangat memengaruhi industri.

CEO Mozilla, John Lilly, seperti dikutip majalah Wired, mengaku tak khawatir dengan kehadiran Chrome ini. Lilly belum menganggap Chrome sebagai pesaing. ”Kompetisi di bidang ini sudah lama dimulai hingga sekarang, perlu waktu untuk membuat orang peduli dan mencintainya,” katanya.

Beberapa kelebihan Chrome:

1. Chrome merupakan browser pertama didesain berperilaku layaknya sebuah sistem operasi. Jika saat ini komputer didominasi sistem operasi Windows, Google ingin menjadi alternatif sistem operasi internet.

2. Perilaku seperti sistem operasi bisa dilihat dari model tab yang masing-masing berjalan seperti layaknya program di Windows. Tiap tab diproteksi memory yang terpisah dan berjalan dengan proses sendiri, layaknya Windows yang bisa membuka banyak jendela aplikasi.

3. Pada Chrome, JavaScript tak hanya sebagai aplikasi tambahan atau pemanis, melainkan dianggap juga sebagai aplikasi utuh. Lewat JavaScript V8, Google menggambarkannya boneka kayu Pinokio menjelma menjadi bocah betulan, maka pada Chrome Javascript telah diadopsi menjadi bahasa pemrograman betulan.

4. Salah satu paket di dalam Chrome dibangun dari open soure WebKit yang dikenal efisien dalam memanfaatkan memori.

Wednesday, September 17, 2008

0

Hah? Tisu Toilet untuk Wanita di Atas 45 Tahun

Kompas.com Rabu, 17 September 2008 | 14:27 WIB

NEENAH, WISCONSIN, RABU — Pernahkah Anda memerhatikan tisu toilet yang tersedia di kamar mandi? Terdiri dari dua lembar bukan? Nah, kini segera diluncurkan sebuah produk tisu tolilet dengan lembaran tiga lapis.

Berangkat dari sebuah penelitian yang dilakukan di Wisconsin Utara, AS, disebutkan bahwa tisu toilet yang terdiri dari dua lembar memang bagus, tapi jika terdiri dari tiga lembar, maka itu lebih bagus. Setelah itu, sebuah tim peneliti di Institut Inovasi Georgia Pacific lewat produksi dari Quilted Northern meluncurkan tisu toilet versi tiga lembar.

Produk ini diluncurkan Senin (Selasa WIB) kemarin. Pihak produsen mengklaim bahwa tisu baru ini memiliki kelembutan ekstra. Nah uniknya pula, jika tiap produk massal memiliki segmen pasar, maka demikian pula dengan tisu ini. Disebutkan, produk ini ditujukan bagi para wanita yang telah berusia lebih dari 45 tahun atau lebih. Kenapa? Ya, alasannya karena pada usia-usia itulah orang biasanya menghabiskan waktu lebih lama di kamar mandi sehingga menginginkan kenyamanan yang lebih. Salah satunya dengan kelembutan tisu tersebut.

Namun, seorang analis industri bernama Bill Schmitz justru menanggapinya dengan skeptis. Tambahan lembaran pada tisu kamar mandi memang akan memmbuat tisu itu lebih kuat, namun tidak menjadikannya lebih lembut, seperti yang digembar-gemborkan Georgia Pasific dengan menambahkan tambahan serat fiber agar lebih lembut.

GLO

Sunday, September 14, 2008

0

Tersinggung Iklan Bu Menteri

Dikutip dari epaperkorantempo:

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari kembali bertikai dengan PT Asuransi Kesehatan Masyarakat (Askes). Kali ini gara-gara iklah layanan masyarakat yang disiarkan Departemen Kesehatan di dua surat kabar nasional. Menteri Siti, dalam iklan itu, mengatakan pengelolaan dana Asuransi Kesehatan untuk Masyarakat Miskin (Askeskin) oleh PT Askes rawan korupsi. Direktur Utama PT Askes, I Gede Subawa, masygul dan mengancam akan menuntut Bu Menteri jika melakukannya lagi. Tapi Menteri Siti tak gentar.

Dia punya bukti "penyelewengan" dana Askeskin pada 2007 sebesar Rp 14 miliar.

2

Kompas, Minggu, 14 September 2008 | 01:16 WIB

M GUNAWAN ALIF

Ketika Lakshmi Mittal, orang kelima terkaya di dunia, berniat membeli 49 persen saham Krakatau Steel dengan penawaran senilai 10 miliar dollar Amerika Serikat, pro dan kontra pun terjadi.

Menteri BUMN Sofyan Djalil dan Kepala BKPM M Lutfi mendukung masuknya Mittal dengan harapan kinerja Krakatau Steel menjadi lebih baik. Maklum, hingga semester pertama tahun ini lonjakan impor baja telah mencapai 4,3 miliar dollar AS. Alangkah eloknya jika hal itu bisa disediakan sendiri di dalam negeri.

Namun, banyak pula yang menolak kehadiran Mittal, mulai dari karyawan dan manajemen Krakatau Steel hingga sejumlah pakar dan pengamat bisnis, yang lebih menyarankan untuk menjual saham melalui penawaran kepada masyarakat (IPO).

Bagi Mittal, kondisi semacam ini bukan yang pertama yang harus dihadapinya. Cold Steel, yang ditulis oleh Bouquet dan Ousey (2008) menjelaskan bagaimana ia merebut sejumlah perusahaan besi dan baja di banyak pelosok dunia. Dukungan yang kuat dari sejumlah lembaga keuangan global memungkinkan Mittal melakukan ekspansi bisnis yang membuatnya sebagai bagian dari lima orang terkaya di dunia.

Sejak Barbarian at the Gate (Burrough dan Helyar, 1990) yang menceritakan dengan rinci lika-liku hostile takeover RJR Nabisco, maka Cold Steel merupakan kisah perburuan Mittal untuk memperoleh sejumlah perusahaan baja yang tidak memiliki kinerja optimal untuk dicaplok dan kemudian dipoles agar beroperasi menguntungkan.

Kedua pengarang berhasil menghidupkan kenyataan dengan menggambarkan sejumlah langkah politik, ekonomi, serta pengelolaan isu dan komunikasi yang harus diambil Lakshmi Mittal dan anaknya, Aditya Mittal, untuk mencapai tujuannya.

Buku ini menggambarkan bagaimana pemerintah di sejumlah negara mengalami kesulitan karena perusahaan baja yang mereka miliki tidak beroperasi secara menguntungkan. Suatu kondisi rawan yang akan mengundang masuk predator asing untuk menguasainya.

Mittal sesungguhnya memulai bisnis baja globalnya dari Jawa Timur, yang dalam tahun pertama operasinya (1978) memproduksi 26.000 ton, dengan laba sebesar 1 juta dollar AS. Sebelas tahun kemudian, produksinya sudah mencapai 330.000 ton, yang memberinya keyakinan untuk memulai akuisisi globalnya.

Ia memulai dari Trinidad dan Tobago, ketika pabrik baja ISCOTT terancam bangkrut. Pengelolaannya saat itu dibantu oleh 60 manajer Jerman yang bergaji 20 juta dollar AS per tahun. Dalam kondisi itu, perusahaan merugi 10 juta dol,ar AS per bulan. Mittal pun menawarkan ke Pemerintah Trinidad dan Tobago, ”Berikan perusahaan untuk saya kelola dan setiap bulan saya akan menyetor 10 juta dollar AS (hal 30).”

Mittal segera melakukan efisiensi. Manajer Jerman diganti dengan manajer India yang hanya digaji 2 juta dolar per tahun, hanya 10 persen dari gaji manajer Jerman. Ketika perbaikan dilakukan (1989), produksi ISCOTT hanya 420.000 ton, empat tahun kemudian produksinya hampir mencapai satu juta ton. Dan, Mittal mengakuisisi pabrik baja itu.

Dalam upaya memburu perusahaan-perusahaan baja di segenap penjuru bumi, Mittal harus berhadapan dengan sejumlah kepala negara yang ikut memberi kata putus terhadap perusahaan milik negara.

Salah satu yang dapat kita contoh adalah apa yang dilakukan Presiden Ukraina Viktor Yushchenko. Ia membatalkan tender KKN senilai 800 juta dollar AS dari kroni presiden sebelumnya bagi pabrik baja utama Ukraina: Kryvorizstal. Lalu melakukan tender terbuka yang sangat transparan. Khalayak umum dapat menyaksikan secara langsung melalui siaran elektronik tawaran yang disampaikan perusahaan-perusahaan baja yang berminat melakukan akuisisi.

Di sinilah Mittal harus bersaing dengan Arcelor, salah satu produsen baja terbesar di Eropa. Penasihat Presiden Yushchenko memperkirakan Kryvorizstal maksimal akan terjual seharga 3 miliar dollar AS. Namun, persaingan terbuka antara Mittal dan Arcelor membuat harga terus terkerek naik dan akhirnya dimenangkan oleh Mittal dengan harga 4,84 miliar dollar AS. Ini berarti lebih enam kali lipat dari harga yang dibayarkan kroni presiden sebelumnya dan nilai tunai yang didapat 20 persen lebih banyak dari semua dana privatisasi Ukraina sebelumnya.

Arcelor Mittal

Menyadari kehadiran Arcelor membuat perburuan pabrik baja menjadi lebih mahal, Mittal memulai perang besarnya untuk melakukan hostile takeover terhadap pesaingnya itu. Sebuah perburuan yang melibatkan banyak negara, sekutu, dan musuh yang perlu dipengaruhi dengan sejumlah deal yang menguntungkan bagi masing-masing pihak.

Mittal, misalnya, harus menemui Presiden Perancis Jacques Chirac dan Wakil Perdana Menteri Spanyol Pedro Solbes karena Arcelor memiliki sejumlah pabrik di Perancis dan Spanyol serta Perdana Menteri Luksemburg, Jean-Claude Juncker, tempat Arcelor bermarkas. Masih pula dilengkapi dengan menghadapi sejumlah menteri yang berhubungan dengan hal itu dan parlemen.

Dijelaskan bagaimana Arcelor harus mencari konsultan hukum, konsultan merger dan akuisisi, serta konsultan komunikasi untuk mempertahankan diri. Termasuk di sini apa yang dilakukan tim komunikasi Mittal dari Publicis, Jean-Yves Naouri, yang meminta wartawan Le Monde untuk mengangkat satu kutipan yang dianggap akan merugikan Arcelor (hal 116).

Mittal juga melengkapi pasukannya dengan konsultan yang sama tangguhnya, dengan suatu pertaruhan penting senilai 188 juta dollar AS—1 juta dollar AS per hari selama masa berburu—untuk membayar para konsultan ini agar dapat merebut mangsa yang diincar.

Ia beruntung didukung Menteri Perdagangan dan Industri India Kamal Nath yang menulis surat ke Komisioner Perdagangan WTO Peter Mendelson bahwa upaya menghalangi upaya merger Arcelor-Mittal sama artinya dengan menghalangi upaya WTO dalam mendorong upaya investasi lintas negara.

”Tidak seharusnya seorang investor dinilai berdasarkan warna kulitnya. Reaksi semacam ini memperlihatkan Eropa tidak siap menghadapi globalisasi yang mereka trompetkan,” tuturnya kepada wartawan (hal 138). Presiden Mammohan Singh juga tak lupa membicarakan hal ini ketika Presiden Chirac berkunjung ke India.

Perang opini dan isu memang sangat terasa di masing-masing pihak. Federasi Karyawan Baja Eropa menyampaikan penolakan mereka terhadap akuisisi Mittal. Mereka terus berupaya melobi para politisi untuk menolak hostile takeover ini.

Arcelor sendiri terus berusaha memperoleh dukungan finansial dari sejumlah institusi keuangan dan sekaligus berusaha mencari white knight, ksatria putih, dalam bentuk perusahaan baja terkemuka lainnya yang mau memberikan tawaran tandingan yang lebih baik dibandingkan dengan dark knight, si ksatria hitam.

Sejumlah ksatria putih datang dan pergi karena pengaruh dan penawaran dari masing-masing pihak. Termasuk di antaranya ThysenKrupp dari Jerman dan SeverStal dari Rusia. Sejumlah deal dan kontra deal bermunculan. Di antara pembicaraan dan perselingkuhan itu, sejumlah investor ikut menambang keberuntungan seiring dengan naiknya nilai saham dari perusahaan yang diperebutkan.

Akhirnya Arcelor jatuh juga ke pangkuan Mittal setelah ia menaikkan tawarannya dari harga semula sebesar 28 dollar AS per saham menjadi 40,40 dollar AS. Pihak manajemen tak lagi mempunyai cara untuk menghalangi Mittal karena pemilik saham Arcelor merasa memperoleh keuntungan besar dengan tawaran itu. Pemerintah Luksemburg yang sebelumnya keras menolak akhirnya terpaksa menerima ketika Mittal memastikan tak akan memindahkan kantor pusat Arcelor Mittal dari negara kecil itu. Mittal juga memastikan akan melaksanakan keterbukaan dan praktik good corporate governance dalam operasinya. Untuk semuanya ini, saham Pemerintah Luksemburg terdilusi hingga tinggal 3 persen dari 6,1 persen yang sebelumnya mereka miliki. Imbalannya, negara ini memperoleh dana tunai sebesar 600 juta dollar AS.

Sementara Arcelor-Mittal menjadi produsen baja terbesar di dunia dengan kapasitas produksi 10 persen dari total produksi dunia. Suatu kapasitas yang menurut Mittal harus terus diperbesar agar perusahaan dapat memiliki sustainable competitive advantage.

Buku ini memberikan pelajaran bahwa di dunia yang semakin terbuka sudah tak ada lagi tempat bagi perusahaan-perusahaan milik negara yang hanya menjadi parasit. Dorongan ke arah privatisasi yang semakin besar ini harus dapat dijawab oleh pengelola BUMN untuk dapat beroperasi secara inovatif dan menguntungkan. Suatu hal yang hanya mungkin terjadi jika mereka tidak diganduli oleh beragam vested interest dari sejumlah faksi dan kelompok untuk semata keuntungan kelompok mereka.

(M Gunawan Alif, Pengajar Brand Management dan Komunikasi Pemasaran di Pascasarjana Manajemen FE UI, MM UI, dan Binus Business School)

Saturday, September 13, 2008

0

"History", "His Story", atau Sekadar "Sorry"

Kompas, Sabtu, 13 September 2008 | 03:00 WIB

Julius Pour

Pertengahan tahun 2002 Gramedia Pustaka Utama meminta komentar saya sesudah penerbit tersebut selesai mencetak kisah pengalaman Soebandrio. Hasil wawancara seorang wartawan, sebanyak 5.000 buku sudah siap untuk diluncurkan.

Setelah saya baca, ternyata banyak sekali hal-hal ajaib. Paling mencolok disebutkan bahwa pada 11 Maret 1966 siang, ketika Istana Negara dan Merdeka sedang dikepung demonstran serta pasukan tak dikenal, Soebandrio bisa melenggang keluar. Ia naik sepeda sampai bundaran air mancur di pojok Bank Indonesia, sebelum kembali masuk ke Istana untuk melanjutkan sidang kabinet yang sedang diikutinya.

Selain menjabat Waperdam I, Soebandrio masa itu merangkap Menteri Luar Negeri sekaligus Ketua Biro Pusat Intelijen (BPI). Meski ketua intel, adalah sangat ajaib bahwa dia sempat bersepeda tanpa dikenal oleh ratusan mahasiswa dan para anggota RPKAD serta Kostrad yang sudah sejak pagi mengepung Istana. Pasukan tersebut memang tanpa memakai seragam, tetapi bersenjata lengkap dan sengaja ditugaskan untuk meringkus para menteri pendukung Gerakan 30 September yang telah disembunyikan Bung Karno di Istana Kepresidenan Jakarta.

”Kalau ada yang percaya kisah Soebandrio naik sepeda, dia pasti gendeng. Tetapi, jauh lebih gendeng penerbitnya sebab dengan sengaja menyebarkan kabar bohong.” Singkat cerita, buku Soebandrio tidak jadi diedarkan. Naskahnya dikembalikan, honorarium kepada penulis dibayar, tetapi oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU) buku tersebut kemudian dibakar. Saya sengaja mengambil satu sebagai kenangan atas the book that never was.

Kritis dalam wawancara

Prof Dr Sartono Kartodirdjo, almarhum guru saya, selalu berpesan, ”… kita harus kritis dalam melakukan wawancara. Kita bukan alat perekam yang akan menelan apa saja omongan orang dan setelah itu ikut menyebar kabar bohong. Kita ingin menulis history, bukan his story atau malahan terjebak dalam sorry….”

Pada kasus Soebandrio, seandainya dia benar mengatakan begitu, pewawancara harus mempertanyakan kembali karena akal sehat pasti mengingatkan, kejadian tersebut sangat mustahil terjadi. Para demonstran serta prajurit ABRI mendadak buta seketika. Tidak melihat sekaligus tidak tertarik ketika seseorang keluar dari Istana dengan naik sepeda. Jelas hal ini menghina profesionalisme prajurit ABRI dan sekadar upaya Soebandrio untuk menonjolkan diri secara keterlaluan.

Sosok ajaib atau ngomong serba ajaib memang bisa muncul setiap saat. Sekitar awal Agustus lalu, Andaryoko Wisnuprabu (88) dari Semarang mengaku dirinya Shodancho Supriyadi, pemimpin pemberontakan Pembela Tanah Air (Peta) di Blitar. Dia sempat dibawa ke Jakarta, dihadirkan dalam tayangan televisi, kemudian mampir ke Yogyakarta meluncurkan buku Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno.

Wisnuprabu alias Supriyadi mengaku meloloskan diri masuk hutan sewaktu pemberontakan Peta ditumpas. Lari ke Jakarta menemui Bung Karno, ia mengganti nama dan menyembunyikan identitasnya. ”Data dan argumen yang menyertai, 90 persen tepat dengan kajian akademis pemimpin tim ahli sejarah dari Pusat Sejarah dan Etika Politik Universitas Sanata Dharma, Baskara T Wardaya SJ,” begitu laporan wartawan Kompas (25/8) dengan amat bersemangat.

Wisnuprabu bagaikan man for all seasons, hadir di setiap tempat dan segala waktu. Dia membawa Bung Karno ke Rengasdengklok, melihat Bung Karno menulis teks proklamasi, bersama Bung Karno pindah ke Yogyakarta naik kereta api, menjabat Menteri Keamanan Rakyat sampai KMB akan dimulai dan membantu Bung Karno ketika mengirim surat kepada Ny Hartini Suwondo. Bahkan, ia bersama Bung Karno ketika para Jenderal datang ke Istana Bogor, yang nantinya melahirkan Surat Perintah 11 Maret.

Akan tetapi, Wisnuprabu tidak bercerita (karena mungkin tidak ditanya) bahwa tetangga Hartini di Salatiga, Sartono Kartodirdjo, sudah pernah mengungkapkan, Bung Karno mengenal Hartini dalam acara pembukaan pemugaran Candi Prambanan. Mereka melakukan percintaan back street, kemudian menikah di Istana Cipanas, di mana Bung Karno tidak hadir dan diwakilkan kepada pengawal pribadinya, Mangil.

Dipenggal di Ancol

Akhir tahun 1975 saya diajak Prof Dr Teuku Jacob, ahli antropologi ragawi Universitas Gadjah Mada (UGM), meneliti sebuah kuburan pada areal bekas tambang di Bayah, Banten Selatan. Tim UGM bersama Yanagawa, eks pelatih militer Peta, ditugaskan Departemen Sosial meneliti sebuah makam yang diduga kuat kuburan Supriyadi. Setelah melakukan penggalian dan meneliti, Prof Jacob menyimpulkan, kerangka tersebut bukan Supriyadi.

Tiga tahun setelah itu, sewaktu Prof Jacob menyelenggarakan pameran manusia purba di Tokyo, Jepang, dengan sponsor koran Mainichi, dia memperoleh catatan rahasia Kempeitai. Antara lain berisi laporan, ”Pemberontakan Peta Blitar meletus pukul 02.30 dini hari 14 Februari 1945, sesudah Shodancho Soeprijadi bersama anak buahnya meninggalkan asrama mereka. Dalam waktu seminggu pemberontakan berhasil ditumpas. Tanggal 16 April 1945 Mahkamah Militer Tentara Darat XVI Jepang menjatuhkan vonis. Enam orang eks Peta Blitar dihukum mati, tiga orang seumur hidup, sisanya dihukum antara dua sampai lima belas tahun.”

Bagaimana dengan Supriyadi?

”… sengaja tidak diajukan ke pengadilan agar tidak menjadi martir. Supriyadi dipenggal di kawasan Ancol, Jakarta, mayatnya dibuang ke laut.”

Langkah Kempeitai mengeksekusi karena menduga para pejuang kemerdekaan Indonesia pasti mengeksploitasi pemberontakan Peta untuk membangkitkan semangat massa. Ternyata benar, Bung Karno langsung mengangkat Supriyadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat dalam kabinet pertama Republik Indonesia seusai proklamasi. Namun, karena tidak pernah muncul, sebulan kemudian ia diganti.

Menodong Bung Karno?

Tahun 2008 juga ditandai dengan terbitnya buku Mereka Menodong Bung Karno, Kesaksian Seorang Pengawal Presiden. Kisah pengakuan bekas Letnan II Soekardjo Wilardjito (81), eks Tentara Pelajar, mantan anggota CMY (Consentrasi Mahasiswa Yogya, embrio CGMI) yang kemudian masuk militer, menjadi perwira dan konon ditugaskan sebagai anggota Dinas Security Istana Kepresidenan. Meski menurut ilustrasi kartu anggota ABRI tahun 1967 yang disertakan dalam buku, dengan nomor pokok 362228 Soekardjo dari Kesatuan S.U. 5, Dam XV Pattimura.

Pengakuan Soekardjo juga kacau. Mudigdo, mertua Aidit, disebut Mudigde. Kolonel Soedirman Komandan Divisi III/Diponegoro, Sarwo Edhie mengganti Kemal Idris, sampai kepada yang sangat ajaib, para jenderal ke Istana Bogor dan menodong Bung Karno. Adegannya mirip film cowboy. ”Basoeki Rachmat mencabut pestol, diikuti Panggabean. Melihat keadaan bahaya, aku pun segera mencabut pestolku, Vickers Parabblum Kaliber 38. Sebagai penembak tepat, aku diizinkan tidak memakai senjata standar ABRI….”

Tembak-menembak tidak terjadi karena Bung Karno bersedia tanda tangan. Malam itu, katanya, Kebun Raya Bogor dipenuhi pasukan RPKAD, petugas Istana segera ditangkapi, termasuk sang penembak tepat tersebut.

Bung Karno

Sejak masa Bung Karno sampai SBY, semua orang harus melepas senjatanya ketika masuk Istana. Kasus terakhir nyaris terjadi saat Panglima Kostrad Letjen Prabowo memaksa menghadap Presiden Habibie. Akan tetapi, secara ksatria, Prabowo bersedia menyerahkan pistol yang dia bawa kepada Paspampres.

Bayangkan ajaibnya peristiwa ini. Di Istana Bogor, ketika Bung Karno dijaga Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Tjakrabirawa pimpinan Letkol (Pol) Mangil, sesudah siangnya terpaksa lari dari Jakarta bersama Mangil naik helikopter. Sangat tolol kalau ada Tjakrabirawa membiarkan para Jenderal menghadap sambil membawa pistol.

Tidak ada bukti dan catatan memperkuat argumen Soekardjo bahwa dia pernah bertugas di Dinas Security Istana Kepresidenan, yang konon atas perintah pribadi Gatot Soebroto. Gatot sudah meninggal ketika Soekardjo bertugas di Kodam XV Pattimura.

Selain anggota DKP, tidak pernah ada orang membawa senjata bisa mendekati Bung Karno. Pada peristiwa Idul Adha tahun 1959 di halaman Istana, seorang anggota Darul Islam (DI) yang mencoba menembak Bung Karno langsung disikat oleh DKP. Sejak peristiwa tersebut, dipasang peralatan pelacak logam di setiap pintu Istana dan tempat Presiden berada.

Bahwa Soekardjo diciduk setelah Supersemar memang sudah seharusnya demikian. Sewaktu menjadi mahasiswa UGM, dia aktivis CGMI. Bahwa CGMI bukan ormas PKI, juga jawaban standar. Sebagaimana Gerwani, SOBSI dan Pemuda Rakjat, mereka tidak akan pernah mengaku bahwa mereka ormas pendukung PKI.

Saya bersimpati kepada nasib Soekardjo serta perjalanan malang dari ribuan orang seperti dia. Namun, hal tersebut tidak lantas mendorong saya tidak kritis mempertanyakan setiap detail dari his story.

Penuturan seyogianya dilandasi kejujuran sikap. Bukan sekadar menebar isu serta pernyataan sepihak asal ngomong. Apalagi his story tanpa bukti pendukung dan bertentangan dengan fakta yang sudah teruji. Sorry.

Julius Pour Wartawan dan Penulis Sejarah

0

Nikmatilah Metallica

Kompas, Sabtu, 13 September 2008 | 03:00 WIB

Budiarto Shambazy

Raja heavy metal Metallica telah kembali melalui album Death Magnetic yang dirilis hari Jumat (12/9). Tak pelak lagi album ini menarik minat besar headbangers karena berisik dan lebih gelap sesuai tuntutan pasar yang telah lama menunggu kedatangan Metallica.

Keempat personel Metallica masih terdiri atas James Hetfield (vokal/gitar), Lars Ulrich (drum), Kirk Hammett (gitar), dan Robert Trujillo (bas) yang masuk tahun 2003 menggantikan Jason Newsted. Sebagian kritikus menganggap Magnetic membawa band asal California yang dianggap salah satu ”empat besar” (bersama Slayer, Megadeath, dan Anthrax) ini back to basics.

Seberapa jauh kebenaran asumsi ini masih perlu dikaji. Anda sendiri bisa mencoba dengan mengunduh singel ”The Judas Kiss”, ”The Day That Never Comes”, ”Cyanide”, atau ”My Apocalypse” melalui iTunes—atau mengunduhnya secara ilegal lewat internet—untuk menilainya sendiri.

Namun, jika dikatakan Magnetic dianggap sebagai ”penemuan diri kembali” Metallica, itu ada benarnya. Album ini diproduksi Rick Rubin, tokoh yang selama dua tahun terakhir serius memoles mereka. Rubin dan keempat personel mempelajari serius mengapa album terakhir yang dirilis lima tahun lalu, St Anger (2003), gagal di pasar.

Rubin adalah produser kelas ikon yang pernah menangani sejumlah artis top, seperti Public Enemy, Jonny Cash, dan Red Hot Chili Peppers. Ia, misalnya, belum tentu kalah dibandingkan dengan Brian Eno. Rubin mendorong keras Metallica melewati batas-batas yang belum pernah dicoba sebelumnya sembari memetik inspirasi dari album pertama, Master of Puppets (1986), yang mencatat sukses komersial dan artistik fenomenal.

”Resepnya bukan menulis kembali lagu yang serupa dengan yang dulu, tetapi menulis dengan semangat seperti waktu itu,” ujar Rubin kepada The New York Times. Jika Anda sudah mencuri dengar Magnetic, resep Rubin itu ternyata cukup mengena. Kesan paling umum bahwa album ini mencoba back to basics dapat ditelusuri, misalnya, dari solo gitar Hammett yang nyaris tak berjejak di St Anger.

Peti mati

St Anger dan album sebelumnya, Load (1996) dan Reload (1997), rada linear. Di Magnetic, Metallica berubah hampir 180 derajat dengan raungan gitar, gebukan drum, serta teriakan vokal yang membuat mereka digolongkan ke subgenre trash metal. Headbangers sejati akan terpuaskan dengan ritme musik yang jauh lebih cepat daripada denyut jantung mereka.

Sampul album itu berciri khas metal bergambar peti mati yang dikelilingi medan magnet yang mengingatkan orang pada gambar makam pada sampul album Master of Puppets (1986). Metallica, yang telah menjual sekitar 57 juta keping album, menganggap Magnetic sebagai penutup era ketidakharmonisan antarpersonel. Kala itu mereka nyaris bubar karena hubungan buruk antara Hetfield dan Ulrich yang memerlukan penanganan khusus oleh psikiater.

”Band ini mencoba menemukan diri beberapa kali, dimulai dari album Load yang terpengaruh rock dan berpuncak pada St Anger. Kini mereka telah menemukan diri: Magnetic dapat disejajarkan dengan sukses invasi pasukan Rusia ke Georgia—serangan mendadak dari raksasa yang bangun dari tidurnya,” tulis majalah Rolling Stone.

Metallica menetapkan rilis Magnetic tanggal 12 September dan telah merilis klip video sejumlah singel sejak Agustus. Namun, album ini dirilis lebih awal oleh sebuah toko penjual di Perancis, 2 September lalu atau dua pekan sebelum tanggal rilis resmi. Akibatnya, distributor Metallica di Inggris, Vertigo Records, memajukan juga tanggal rilis menjadi 10 September.

Kekacauan tanggal rilis ini dapat menimbulkan tuntutan hukum, baik oleh Metallica maupun label mereka, Warner. ”Jika album itu sampai dijual sepuluh hari lebih awal dari tanggal resmi, berarti ia laku. Percayalah kepada saya. Untuk ukuran tahun 2008, itu namanya kemenangan,” kata Ulrich.

Metallica dipengaruhi oleh band-band heavy metal tahun 1970-an, seperti Black Sabbath, Deep Purple, dan Led Zeppelin. Setelah generasi ini, pengaruh terhadap Metallica dikentalkan lagi oleh band-band heavy metal asal Inggris lainnya, seperti Venom, Motörhead, Diamond Head, dan Iron Maiden. Salah satu kelebihan Metallica adalah penulisan lirik yang berkaitan dengan isu-isu yang personal serta berbau politik, agama, militer, dan kegilaan sosial. (AFP/BBC)